Jul 01

385 Pria Demak Ikuti KB Vasektomi, Target Setahun 19 Akseptor

Spread the love

Muhammad Kadim 47 th dan Sani 36 th , warga Berahan Wetan Wedung di Damping i Kepala Desa Berahan Wetan Bisri Purwanto , Spdi, Mpdi, Koodiornator PLKB Kecamatan Wedung Abdul Aziz , S.Sos, Bidan Koordinator , bidan desa  Puskesmas Wedung I ketika melakukan Testimoni  .

 

 

RADARSEMARANG.ID, DEMAK- Raut muka Muhammad Kodim tampak biasa saja. Khas orang desa. Terlihat sekali kalau ia adalah pria pekerja keras. Ya. Nelayan yang juga petambak. Meski usianya baru 47 tahun, namun ia terlihat sedikit tua. Demikian pula, Sani, yang kini berusia 48 tahun. Sama sama sebagai nelayan pesisir Wedung. Keduanya adalah warga Dukuh Menco, Desa Berahan Wetan, Kecamatan Wedung. Istri Kodim adalah Istiqomah. Usianya 35 tahun. Sedangkan, istri Sani bernama Sutiah, usia 36 tahun.

Kodim maupun Sani sama sama menjadi peserta KB vasektomi sebagai jenis metode operasi pria (MOP). Vasektomi merupakan operasi kecil (bedah minor) yang dijalani untuk mencegah transportasi sperma pada testis dan penis. Vasektomi adalah prosedur efektif mencegah kehamilan bersifat permanen.

Kodim menuturkan, ia ikut KB MOP dengan alasan merasa sudah tua. Sedangkan, anaknya sudah lima. “Saya ini sudah merasa tua. Anak juga banyak. Ada 5 anak. Dengan MOP ini biar saya tidak punya anak lagi,”ungkap Kodim saat memberikan testimoni atau pengalamannya menjadi peserta aktif KB MOP.

Pengakuan Kodim yang polos ini membuat dirinya untuk tetap bersemangat menjalani hidup apa adanya sebagai nelayan. Ia pun menambahkan, setelah ikut MOP itu, dirinya merasakan biasa biasa saja. Tidak ada yang aneh. “Kalau lagi bekerja juga tidak berpengaruh pada tenaga. Sama seperti sebelum ikut KB. Untuk hubungan seksual dengan istri juga biasa saja tidak ada pengaruhnya,”ujar pria yang menjalani KB setahun terakhir ini.

Apa yang dirasakan Kodim sama pula yang dialami Sani. Sebagai peserta KB MOP, ia tetap bersemangat dalam bekerja. “Dengan usia sekarang ini, saya merasa sudah tua. Walaupun anak saya hanya dua. Istri sebenarnya ingin nambah anak. Tapi, saya merasa tidak mampu lagi. Akhirnya jalan keluarnya saya ikut MOP ini,”ungkap Sani yang juga memberikan testimoni disela mengikuti penyuluhan kependudukan keluarga berencana dan pembangunan keluarga (KKBPK) di Balai Penyuluhan tingkat Kecamatan Wedung, Jumat (28/6). Sani juga mengungkapkan, bahwa setelah ia menjalani KB MOP, apa yang dirasakan juga biasa biasa saja, baik saat bekerja maupun melakukan hubungan suami istri.

Kepala Dinpermades P2KB Pemkab Demak, Daryanto melalui Kabid Pengendalian Penduduk Penyuluhan dan Penggerakan, Sukardjo, SKM, MKes menyampaikan, dalam kehidupan berkeluarga, bapak bapak harus memiliki rasa sayang pada istrinya. “Salah satu caranya adalah suami ikut KB. Jadi, bapaknya yang menjalani KB,”katanya. Menurutnya, kaum pria yang telah menjalani KB bisa menjadi motivator bagi para suami lainnya. Mereka bisa mengajak tetangganya untuk mengikuti jejaknya untuk ber-KB. “Untuk KB jenis MOP ini bermanfaat sekali. Tidak ada efek samping baik terkait dengan pekerjaan maupun saat hubungan seksual suami istri,”ujar Sukardjo.

Yang menarik, untuk mengapresiasi para pria atau lelaki atau para suami yang telah ber KB, bupati telah memberikan kompensasi sebesar Rp 750 ribu. Uang tersebut telah diterima para akseptor KB MOP. Kompensasi itu sebagai upaya penghargaan terhadap akseptor dengan asumsi tidak bekerja selama 4 hari setelah ber KB. “Kita berharap, kedepan kompensasinya bisa ditambah lagi menjadi Rp 1 juta per akseptor. Karena itu, tolong ajak teman temannya untuk ikut MOP. Misalnya, saat ada pertemuan akseptor yang sudah menjalani MOP bisa ikut memotivasi yang belum,”kata Sukardjo.

Dia menambahkan, usai operasi kecil, akseptor sehari bisa langsung bekerja lagi. Operasi yang dijalani tidak terasa sakit dan cepat kering. Sukardjo juga mengapresiasi bidan Desa Mutih Wetan yang bisa menemukan pria yang mau berk KB MOP. “Pak Muhamad Kodim dan Pak Sani ini contohnya. Mereka telah memberikan testimoni, bahwa pengalaman yang dijalani selama ber KB MOP terasa baik baik saja,”katanya.

Diapun berharap, para kepala desa dapat turut mendorong KB MOP tersebut. Dalam APBDes misalnya, kades bisa memasukkan anggaran untuk membantu program KKBPK. Misalnya untuk operasional. Jika ada akseptor KB yang mau saat berangkat menjalani KB bisa diberkan uang saku. “Pas berangkat misalnya, pihak desa memberi uang saku Rp 50 ribu untuk setiap akseptor. Sebab, tujuan KB sendiri adalah untuk kesejahteraan masyarakat,”ujar dia.

Menurutnya, pembangunan sekarang tidak hanya pembangunan fisik semata. Namun, juga membangun secara non fisik dalam bidan kependudukan dan KB. “Di Dukuh Menco ini sudah ada kampung KB dan masuk monitor BKKBN pusat. Mudah mudahan Dukuh Menco jadi maju. Bisa ditemukan akseptor KB MOP lagi,”katanya.

Berdasarkan data Dinpermades P2KB setempat, jumlah akseptor KB jenis MOP di Kabupaten Demak hingga Mei 2019 sebanyak 385 orang (0,24 persen). Jumlah itu adalah dari 159.526 peserta aktif se Kabupaten Demak. Adapun, sampai Mei 2019 lalu, setidaknya telah dilayani peserta KB MOP sebanyak 11 orang dari target semula, yaitu 19 peserta (56,48 persen). Sementara, untuk peserta KB aktif pengguna metode KB jangka panjang (MKJP) sampai Mei ada 27.252 orang peserta (17,08 persen). (hib/sas)

Tim Adv& KIE P2PP , Sumber : Jawa Pos Radar Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published.